Senin, 24 Agustus 2009

Manaqib Ringkas Para Mursyid: Syekh Abdul Karim Al-Bantani*

Manaqib Ringkas Para Mursyid: Syekh Abdul Karim Al-Bantani*
Oleh: Triwibs Kanyut ⋅ 22 Agustus 2009 | Email This Post Email This Post ⋅ Print This Post Print This Post ⋅ Komentar

Abdu Al-Karim Banten, Sufi ini adalah mursyid tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, murid dan penerus dari Syekh Ahmad Khatib Sambas, sang pendiri tarekat tersebut. Beliau juga dikenal sebagai Kyai Agung, yang memberi semangat jihad atau perang suci melawan penjajah Belanda yang memicu pemberontakan petani terkenal pada 1888 di Banten yang melibatkan beberapa murid utama Syekh Abd al-Karim, meski Syekh Abdul Karim sendiri pernah mengatakan bahwa belum saatnya dilakukan pemberontakan melawan penjajah.

Abd al-Karim (Abdul Karim) Banten lahir pada tahun 1840 di Lempuyang, Tanara, Banten. Sejak masih muda beliau sudah pergi menuntut ilmu ke Mekah dan mengabdi serta mendalami tasawuf serta mengikuti tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas sampai akhirnya mendapat ijazah untuk menjadi khalifah Syekh Ahmad Khatib. Tugas pertama yang diembannya adalah melayani guru tarekat di Singapura selama beberapa tahun. Pada 1872 beliau kembali ke kampung halamannya, desa Lempuyang dan menetap di sana sekitar tiga tahun lamanya. Pada 1876 beliau berangkat lagi ke Mekah untuk meneruskan kepemimpinan Syekh Ahmad Khatib Sambas.

Selama di Banten, khotbah dan ajaran-ajaran Syekh Abdul Karim Banten sangat mempengaruhi warga Banten pada zamannya. Beliau menggagas tentang perlunya pemurnian terhadap keyakinan dan praktik religius. Sebagaimana mursyid tarekat lainnya, Syekh Abdul Karim mendukung zikir sebagai metode utama untuk merevitalisasi iman. Kebesaran dan kewibawaannya serta keluasan ilmunya yang dalam itu menyebabkan beliau kerap dikunjungi oleh banyak orang awam, yang sebagian datang untuk ber-tabarruk dan mencari barakah dari kewaliannya. Sebagaimana lazimnya sosok yang dikenal sebagai wali Allah, Syekh Abdul Karim ini juga dianugerahi banyak karamah – misalnya beliau selamat dari gelombang banjir besar dari Sungai Cidurian melalui kekuatan karamahnya, dan ketika ia pernah dijatuhi hukuman, residen dan bupati di sana dicopot dari jabatannya. Besarnya pengaruh Kiai Abdul Karim, juga tampak ketika ia melangsungkan pernikahan putrinya. Seluruh desa Lampuyang, tempat tinggalnya, dihias dengan megah. Kiai-kiai terkemuka — termasuk dari Batavia dan Priangan — datang di pesta yang antara lain dimeriahkan rombongan musik dari Batavia dan berlangsung sepekan itu.

Kurang lebih tiga tahun Kiai Abdul Karim tinggal di Banten. Ditunjang kekayaan yang dimiliknya, ia mengunjungi berbagai daerah di negeri ulama dan jawara itu, sambil menyebarkan ajaran tarekatnya. Selain kalangan rakyat, ia juga berhasil meyakinkan banyak pejabat pamong praja untuk mendukung dakwahnya. Tidak kurang dari Bupati Serang sendiri yang menjadi pendukungnya. Sedangkan tokoh-tokoh terkemuka lainnya, seperti Haji R.A Prawiranegara, pensiunan patih, merupakan sahabat-sahabatnya, dan mereka amat terkesan dengan dakwahnya. Alhasil, Kiai Abdul Karim sangat populer dan sangat dihormati oleh rakyat; sedangkan para pejabat kolonial takut kepadanya. Kediamannya dikunjungi Bupati Serang dan Residen Banten. Dan tentu saja kunjungan kedua petinggi di Banten itu membuat gengsinya semakin naik. Tidak berlebihan jika dikatakan, Kiai Abdul Karim benar-benar orang yang paling dihormati di Banten.

Sebelum kedatangan Kiai Agung dengan tarekat Qadiriyyahnya, para kiai bekerja tanpa ikatan satu sama lainnya. Tiap kiai menyelenggarakan pesantrennnya sendiri dengan caranya sendiri dan bersaing satu sama lainnya. Maka, setelah kedatangan Kiai Abdul Karim, tarekat Qadiriyyah bukan saja semakin mengakar di kalangan rakyat, tapi mampu mempersatukan para kiai di Banten. Penyebaran tarekat ini diperkuat oleh kedatangan Haji Marjuki, murid Haji Abdul Karim yang paling setia, dari Makkah.

Syekh Abd al-Karim adalah syekh terakhir yang secara efektif menjalankan fungsi sebagai pucuk pimpinan seluruh tarekat, paling tidak secara formal pengarahannya masih dipatuhi oleh para koleganya. Walaupun Syekh Abd al-Karim tidak berada di Banten dan tidak terkait apa-apa dengan pemberontakan petani paling terkenal di Jawa pada tahun 1888, namun beberapa muridnya, terutama Haji Marjuki (Marzuqi), salah salah seorang khalifahnya, yang radikal dan anti-Belanda, dicurigai oleh Belanda sebagai tokoh penghasut di balik pemberontakan tersebut.

Beberapa muridnya yang terkenal lainnya diantaranya adalah H. Sangadeli, Kaloran, H. Asnawi Bendung Lampuyang, A. Abu Bakar Pontang, dan H. Tubagus Ismail Gulatjir, yang juga kharismatik dan oleh sebagian besar masyarakat dianggap sebagai wali Allah. Dalam bidang tarekat, meski tidak mengembangkan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah secara luas, namun Syekh Abdul Karim Banten memiliki beberapa khalifah penting yang mampu menyebarkanluaskan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah sehingga menjadi tarekat besar di nusantara. Khalifah dan murid Syekh Abdul Karim yang berperan utama dalam penyebaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah antara lain: Kyai ASNAWI CARINGIN; Syekh Tolhah Kalisapu Cirebon; Syekh ABDULLAH MUBARROK IBN NUR MUHAMMAD (Abah Sepuh) Godebag , Tasikmalaya, pendiri pesantren Suryalaya, yang kini menjadi salah satu pusat terbesar tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, terutama di bawah kepemimpinan penerusnya, yakni anaknya sendiri, Syekh Ahmad Shahibul Wafa’ Taj Al-Arifin (Abah Anom); Kyai Falak Pagentongan, Bogor; Kyai KHOLIL BANGKALAN; Haji Muhammad Amin Ampenan (kakek dari pemimpin tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Lombok, Tuan Guru Mustafa Faisal); dan Muhammad Sidik Mataram.

_________________________________
* Bagian Kedua dari beberapa tulisan.
** Penulis adalah Ikhwan TQN.

Mursyid-Mursyid Thariqah: Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, dan Syadziliyyah

Mursyid-Mursyid Thariqah:
Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, dan Syadziliyyah
Oleh: Giarto Kassam ⋅ 24 Agustus 2009 | Email This Post Email This Post ⋅ Print This Post Print This Post ⋅ Komentar

Setelah berkembang selama lebih dari enam abad, thariqah saat ini telah tersebar di seluruh nusantara. Pada awal abad dua puluh satu ini ribuan guru mursyid tinggal dan mengajarkan ilmunya di seluruh pelosok tanah air. Berikut sekilas profil lima mursyid yang mewakili tiga thariqah terbesar di tanah air: Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Naqsyabandiyyah Khalidiyyah dan Syadziliyyah.

ABAH ANOM

Tokoh pertama adalah Abah Anom. Kedudukannya sebagai seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus ulama sepuh membuatnya menjadi tempat berteduh bagi jiwa-jiwa yang dahaga. Sebagai orang tua telah kenyang dengan asam garam kehidupan Abah Anom dengan arif menerima kunjungan tamu-tamunya, siapapun adanya dan apapun kepentingannya. Hidupnya dengan ikhlas dipersembahkan untuk melayani umat manusia.

Belum lagi kemasyhuran pesantren Suryalaya sebagai tempat penyembuhan pecandu narkoba dan penyakit psikis dengan metode Islamic Hidrotherapy, yang formulanya dirancang oleh Abah Anom. Metode ini menggabungkan konsep cold turkey system yang diislamkan melalui mandi taubat, serangkaian shalat dengan dzikir ala Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Program yang semula diniatkan untuk membantu program pemerintah tahun 1971 ini kemudian berlanjut terus dan dilembagakan dalam pesantren remaja Inabah.

Abah Anom yang sejak muda tidak makan daging dan selalu minum air putih itu adalah putra kelima KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) dari istri keduanya Hj. Juhriyah. Ia memang disiapkan ayahnya untuk meneruskan kepemimpinan thariqah di Suryalaya. Selepas pendidikan dasar di sekolah dan pesantren orangtuanya, pada tahun 1930 Abah Anom memulai pengembaraan menuntut ilmu agama Islam secara lebih mendalam.

Diawali dengan mengaji ilmu fiqih di pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu alat dan balaghah di pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah dua tahun di Jambudipa ia melanjutkan mengaji pada ajengan Syatibi di Gentur Cianjur dan ajengan Aceng Mumu di pesantren Cireungas Sukabumi yang terkenal dengan penguasaan ilmu hikmahnya pada 2 tahun berikutnya. Kegemaran akan ilmu silat dan hikmah kemudian diperdalam di pesantren Citengah Panjalu yang diasuh oleh Ajengan Junaidi, seorang ulama ahli ilmu alat dan hikmah.

Kematangan ilmu Abah Anom di usia 19 tahun diuji dengan kepercayaan yang diberikan oleh Abah Sepuh untuk membantu mengasuh pesantren Suryalaya sampai beliau wafat pada tahun 1956 dalam usia 120 tahun. Dua tahun sebelum wafat Abah Sepuh mengangkat Abah Anom menjadi wakil talqinnya, kemudian menjadi mursyid penuh Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus pengasuh pesantren menggantikan Abahnya yang mulai sakit-sakitan.

Manajer Handal

Beban tanggung jawab yang begitu berat tertumpu dibahunya di usianya yang baru menginjak 41 tahun, menenggelamkan Abah Anom ke dalam samudera riyadhah. Kecintaannya kepada pesantren, thariqah dan umat melarutkan hari-harinya dalam ibadah, tarbiyah dan doa.

Sepanjang sisa hidupnya Abah Anom hampir tidak pernah tidur, demikian cerita salah satu keponakan Abah Anom yang pernah mengabdi di rumahnya. Di luar kegiatan ibadah mahdlah, mengajar dan kunjungan, Abah Anom menghabiskan seluruh waktunya dengan melakukan dzikir khafi. Setiap kali kantuk menyerang, Abah Anom segera berwudhu dan shalat sunah lalu melanjutkan dzikirnya.

Selain berdzikir, Abah Anom juga seorang manajer yang handal. Di tangannya Suryalaya, yang dulunya pesantren kecil di tengah hutan, berkembang pesat menjadi salah satu pesantren yang sangat disegani di negeri ini. Santri dan pengikutnya yang mencapai angka jutaan tersebar di seluruh Indonesia bahkan negeri-negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan lain sebagainya. Jumlah ini mencakup sekitar 3000 santri yang bermukim untuk belajar dan kuliah di lingkungan pesantren Suryalaya, alumni, puluhan santri remaja Inabah serta jutaan ikhwan-akhwat Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).

Kini di usianya yang semakin senja, Abah Anom tidak lagi secara intens mendampingi santrinya. Tubuhnya yang semakin renta tak lagi mampu mensejajari semangat dan kecintaannya kepada sesama. Karena itu beberapa tahun belakangan semua urusan pesantren dan thariqah diserahkan kepada 3 orang yang ditunjuk sebagai Pengemban Amanat, yang terdiri dari KH. Zainal Abidin Anwar, KH. Dudun Nur Syaidudin dan KH. Nur Anom Mubarok.

Namun demikian dengan sisa-sisa tenaga yang semakin melemah Abah Anom tetap bersikeras menerima semua tamu yang mengunjunginya dari berbagai pelosok tanah air, walau hanya sekedar dengan berjabat tangan. Juga diyakini, secara ruhaniah Abah Anom masih akan terus mengasuh jiwa-jiwa yang membutuhkan tetes demi tetes embun hikmah yang mengalir dari kejernihan telaga hatinya.


KH. AHMAD ASRORI UTSMAN AL ISHAQI

Tokoh mursyid ternama lain dari Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Indonesia adalah K.H. Ahmad Asrori Al-Ishaqi, pemimpin Jamaah Al-Khidmah yang berpusat Kedinding Lor, Surabaya. Sebagai ciri khas, Kiai Asrori menambahkan kata Al-Utsmaniyyah di belakang thariqahnya yang merujuk kepada ayahandanya, K.H. Utsman Al-Ishaqi.

Kiai Utsman yang masih keturunan Sunan Giri itu adalah murid kesayangan dan badal K.H. Romli Tamim (ayah K.H. Musta’in), Rejoso, Jombang, salah satu sesepuh Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di negeri ini. Ia dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri Mojosari Mojokerto. Sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), Kiai Utsman mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya, Sawah Pulo, Surabaya.

Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan diberikan kepada putranya, Gus Minan, sebelum akhirnya ke Gus Rori. Konon pengalihan tugas ini berdasar wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya. Di tangan Gus Rori jamaah thariqah tersebut semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Gus Rori memilih membuka lahan baru, yakni di Kedinding Lor yang dibukanya dari nol.

Keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Inilah yang menjadikannya didekati banyak pejabat dan juga kalangan selebriti. Jemaah tarekatnya tidak lagi terbatas pada para pencinta tarekat sejak awal, melainkan melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan tarekat.

Menyajikan Suguhan

Hebatnya, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, Gus Rori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Ia adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan tak jarang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Kini, ulama yang usianya sekitar lima puluh tahunan itu menjadi magnet tersendiri bagi sebagian kaum, khususnya ahli tarekat. Karena kesibukannya dan banyaknya tamu, Gus Rori kini menyediakan waktu khusus buat para tamu, yaitu tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jemaah baru maupun jemaah lama, dilakukan seminggu sekali.

Ada tiga macam pembaiatan yang dilakukan Kiai Asrori, yaitu Bai’at bihusnidzdzan bagi pemula, Bai’at bilbarakah (tingkat menengah), dan Bai’at bittarbiyah (tingkat tinggi). Untuk menapaki level-level itu, tiap jemaah diwajibkan melakukan serangkaian zikir rutin sebagai ciri tarekat, yaitu zikir Jahri (dengan lisan) sebanyak 165 kali dan zikir khafiy (dalam hati) 1.000 kali tiap usai salat. Kemudian, ada zikir khusus mingguan (khushushiyah/usbu’iyah) yang umumnya dilakukan berjemaah per wilayah, seperti kecamatan.

Kunjungan ke tempat lain – sampai ke mancanegara – pada intinya acaranya sama, yaitu zikir. Sedangkan di kediaman Gus Rori sendiri diadakan dua minggu sekali. Minggu pertama untuk jemaah umum, sedangkan minggu kedua untuk kalangan khusus. Yang kedua ini menarik, karena yang hadir hampir kesemuanya orang Madura. Maka, ceramah dan lainnya berbahasa Madura.tapi kini Gus Rori atau Dikenal sebagai KH AHMAD ASRORI USTMAN AL ISHAQI, telah wafat beberapa hari yang lalu, dan saat ini belum di tunuk siapa pengganti beliau.


KH. MUHAMMAD SALMAN DAHLAWI

Sementara itu di Jawa Tengah tokoh mursyid thariqah terbilang cukup banyak. Dari kalangan Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, misalnya, terdapat salah seorang tokoh besar yang sangat bersahaja. Dialah K.H. Muhammad Salman Dahlawi, pengasuh pesantren Al-Manshuriyah Popongan, Klaten. Ratusan ribu murid Mbah Salman saat ini tersebar di seantero Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur bahkan Sumatera.

Mbah Salman, demikian sang kiai akrab disapa, adalah anak laki-laki tertua dari K.H.M. Mukri bin K.H. Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari K.H.M. Manshur, pendiri pesantren yang sekarang ini diasuhnya. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman memang dipersiapkan oleh sang kakek, K.H.M. Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai awliya, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuada lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya,–mau tidak mau- Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, K.H.M. Mukri.

Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,

Pesantren Sepuh

Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian : pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya. Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan pada bulan-bulan tertentu.

Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.

Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai, yang bulan Ramadlan 1425 H lalu genap berusia 70 tahun menurut perhitungan hijriyah ini. Ketika berbicara dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.


TEUNGKU Dr. MUHIBBUDIN WALY

Selain Mbah Salman, ada juga tokoh mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Nangroe Aceh Darussalam. Namanya Teungku Dr. Muhibbudin Waly, putra dari Syaikh Muhammad Waly, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah Waliyah di tanah Rencong yang berasal dari nagari Minangkabau.

Dari garis ayahandanya, yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Syaikh Muda Waly, mengalir darah ulama besar di Minang. Paman Syaikh Muda Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang wali Allah yang sangat termasyhur di tanah Minangkabau. Sebagaimana kedudukan pamannya, Syaikh Muda Waly juga mewarisi kharisma dan karomahnya. Konon beliau pernah memindahkan anaknya dari Minangkabau ke Aceh dalam sekejap mata.

Syaikh Muda Waly, ayah Buya Muhibbudin adalah sahabat Syaikh Yasin al-Fadany Mekkah saat masih sama-sama berguru pada Sayyid Ali Al-Maliky, kakek dari Sayyid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky al-Maliky al-Hasany. Karena hubungan itu pula, ulama besar tersebut pernah mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Buya beberapa tahun lalu.

Pertemuan berikutnya dengan Syaikh Yasin al-Fadani juga tidak berbeda. Sambil terus memegang tangannya, Syaikh Yasin kemudian memberikan ijazah atas semua hadits Rasulullah yang dikuasainya.

Teungku Muhibbudin Waly belajar tarekat pertama kali dari ayahnya, yang membimbingnya meniti tarekat Naqsyabandiyah. Namun karena takzim, setelah dianggap cukup, Syaikh Muda Wali menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syaikh Abdul Ghoni al-Kampary.

Ahli Ushul Fiqh

Saat itu di pesisir timur utara pulau Sumatera, ada dua orang guru mursyid besar yang tinggal di daerah Riau. Keduanya termasyhur min jumlatil aulia, termasuk golongan wali-wali Allah, yaitu Syaikh Abdul Ghoni Kampar yang murid-muridnya kebanyakan adalah para ulama dan Syaikh Abdul Wahhab Rokan yang murid-muridnya adalah orang-orang awam.

Belakangan Buya Muhibbudin Waly juga mendapat ijazah irsyad, menjadi guru mursyid, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari ulama kharismatik KH. Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin (Abah Anom) pengasuh pesantren Suryalaya dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari guru besarnya Syaikh Muhammad Nadzim Al-Haqqany.

Silaturahmi dan selalu belajar kepada para alim ulama memang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, bahkan hingga kini. Buya menceritakan nasihat ayahandanya, “Jika kau bertemu dengan orang alim, jangan pernah berdebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya lalu cium tangannya.”

Syaikh Muhibbudin Waly mengambil gelar doktornya di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo dengan disertasi tentang Pengantar Hukum Islam. Waktu kuliahnya terbilang singkat yang diselesaikannya tahun 1971.

Kini, setelah kesibukannya sebagai anggota DPR RI berakhir tahun 2004 lalu, Buya Muhibbudin Waly lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat, dan menulis. Saat ini ada beberapa buku tentang Tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi Tarekat yang diberi judul Kapita Selecta Tarekat Shufiyyah.

Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga buah kitab yang diharapkan akan jadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya. Tiga kitab tersebut adalah Tafsir Waly (Tafsir al-Quran), Fathul Waly (Syarah dari kitab Jauharatut Tauhid) dan Nahjatuh an-Nadiyah ila Martabat as-Shufiyyah (Sebuah kitab di bidang ilmu Tasawuf).

Sebagai pewaris darah pujangga-pujangga Minangkabau, kemahirannya dalam menulis syair pun tak perlu diragukan lagi. Belum lama ini beliau mengijazahkan syair tawasul tarekat, yang digubahnya sendiri dalam dua bahasa Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan tentang proses perjalanan suluknya, yang diselingi dengan doa tawasul kepada para pendiri tarekat-tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya.

Kini, di usianya yang terbilang senja, Buya mengaku tidak lagi sekuat dulu dalam berkhidmah pada agama, nusa dan bangsa. Namun demikian beliau tetap berusaha melayani umat. Karena itu ia membagi jadwal kegiatan bulannannya menjadi tiga. Bulan pertama Buya tinggal di Jakarta, bulan kedua ia habiskan di Aceh dan bulan ketiga Tengku Muhibbudin melayani undangan ke daerah-daerah lain.

Selain kedua thariqah di muka, thariqah yang pengikutnya tak kalah besar saat ini adalah Thariqah Syadziliyyah. Menjelang akhir abad dua puluh lalu ada beberapa pusat pengajaran thariqah Syadziliyyah di Jawa yang sangat besar, yaitu Pesantren Peta Tulungagung yang diasuh Kiai Abdul Jalil Mustaqim, Pesantren Watucongol Magelang yang diasuh K.H. Ahmad Abdul Haq, Pesantren Parakan Temanggung yang diasuh K.H.R. Muhaminan Gunardo, Pesantren Cibadak Pandeglang yang diasuh K.H. Dimyathi, Zawiyyah Kacangan dipimpin oleh K.H. Idris dan Kanzus Shalawat yang diasuh Habib Luthfi Bin Yahya.

Telah Wafat

Namun sayangnya, sebagian besar pengasuh itu telah wafat. Dan saat ini hanya tinggal Habib Luthfi dan K.H. Ahmad Abdul Haq saja yang masih hidup dan mengajarkan thariqahnya.


HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Habib Luthfi bin Ali bin Haysim Bim Yahya, Setelah berkembang selama lebih dari enam abad, thariqah saat ini telah tersebar di seluruh nusantara. Pada awal abad dua puluh satu ini ribuan guru mursyid tinggal dan mengajarkan ilmunya di seluruh pelosok tanah air. Berikut sekilas profil lima mursyid yang mewakili tiga thariqah terbesar di tanah air: Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Naqsyabandiyyah Khalidiyyah dan Syadziliyyah.

Ditempa Para Wali

Tentu saja semua keistimewaan itu tidak datang dengan tiba-tiba. Beberapa ulama besar yang termasyhur sebagai waliyullah telah ikut menempanya sejak kecil. Sebut saja Habib Ahmad bin Ismail Bin Yahya dan Habib Umar bin Ismail Bin Yahya alias Abah Umar, seorang waliyullah yang tinggal di desa Panguragan, Arjawinangun, Cirebon, yang mengasuh Habib Luthfi kecil ketika ia tinggal di desa itu. Dari tokoh eksentrik itulah untuk pertama kalinya Habib Luthfi mempelajari ilmu kehidupan.

Selain itu Habib Luthfi juga pernah berguru kepada Habib Syekh bin Abu Bakar bin Yahya (Cirebon) dan Mbah K.H. Muhammad Bajuri (Indramayu). Puncaknya, Habib yang piawai memainkan alat musik organ dan sering menggubah lagu itu mendalami tarekat Syadziliyyah kepada Al-Habib Muhammad Abdul Malik bin Ilyas Bin Yahya, alias Mbah Malik. Setelah beberapa tahun berguru kepada waliyullah yang tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah, itulah Habib Luthfi memperoleh ijazah kemursyidan Thariqah Syadziliyyah.

Kedudukan sebagai pimpinan kaum tarekat di tanah air, memang membuat Habib Luthfi didekati semua kalangan. Ia juga sering dikunjungi para guru mursyid dari berbagai negara, seperti Syaikh Hisham Kabbani, mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Haqqaniyyah dari Amerika Serikat dan Syaikh Muhammad Al-Ya’qoubi, mursyid Tarekat Syadziliyyah dari Damaskus, Syiria. Dalam pertemuan antar mursyid tersebut, di samping saling berkisah tentang aktivitas dakwah masing-masing, biasanya mereka juga saling meminta ijazah atas sanad keilmuan yang dimiliki.


* Penulis adalah Pangreksa Pondok Gendheng Barokah, Bintaro, Jakarta, Al Faqiir Mbah Kassam.

Nasihat Buat Para Suami

Nasihat Buat Para Suami
oleh: Syaikh Musthofa Al 'Adawi

Apa yang memberatkanmu wahai hamba Allah!
untuk bermuka cerah di depan isterimu ketika masuk rumah, agar engkau mendapat pahala dari Allah?!!
Apakah berat bagimu jika engkau melemparkan senyuman kepada isteri dan anak-anakmu?!!
Apakah mengurangi kewibawaanmu wahai hamba Allah! bila engkau mengecup kening isterimu dan bermain-main dengannya?!!
Apakah yang memberatkamny menyuapkan satu suapan makanan ke mulut isterimu, hingga engkau mendapat pahala karenanya?!!
Apakah sulit bila masuk rumah engkau mengucpkan salam dengan sempurna: Assalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh; hingga engkau mendapatkan 30 kebaikan?!!
Mengapa engkau tidak berbicara dengan perkataan yang baik kepada isterimu, meskipun sedikit berbohong agar ia senang?!!
Tanyakanlah tentang isterimu, tanyakanlah keadaannya ketika engkau baru masuk rumah.
Aku pikir tidak mengapa dabn tidaklah berat bila engkau berkata kepada isterimu:
"Wahai kekasihku, sejak aku keluar dari sisimu sedari pagi hingga sekarang, seolah-olah setahun telah berlalu!!"
Sesungguhnya bila engkau mengharapkan pahala -walaupun engkau merasa jemu mendatangi dan mencampurinya- maka engkau mendapat pahala dan ganjaran Allah Ta'ala;
karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan dalam kemaluanmu ada sedekah."
Apakah termasuk suatu kebodohan wahai hamba Allah!
bila engkau berdo'a pada Allah seraya berkata:
"Ya Allah perbaikilah aku dan isteriku, serta berikanlah keberkahan kepada kami."
Sebuah ucapan yang baik adalah sedekah
Wajah berseri dan senyuman adalah sedekah
bersalaman sambil mengucapkan salam menghilangkan kesalahan-kesalahan
dalam jima' pun ada pahalanya.
==
dari:
Romantika Pergaulan Suami Isteri, Syaikh Musthofa Al 'Adawi; kerjasama Media Hidayah dan Pustaka Al Haura; hal.209-211

Kebenaran tentang Nur (Cahaya) Muhammad saw?????

Kebenaran tentang Nur (Cahaya) Muhammad saw.
Senin, 24/08/2009 14:48 WIB
Assalamualaikum Wr, Wb Pak Ustad..

Baru-baru ini saya mengikuti pengajiaan Pak Ustad, tapi ada yang kurang paham bagi saya :

1. Penceramah mengatakan sebelum dunia di ciptakan, Allah sudah menciptakan Nur Muhammad. Apa yang di maksud Nur Muhammad dan apakah ada hadis yang shahih menceritakan itu.

2. Kemudian penceramah mengatakan jika ingin panennya bagus tuliskan lafadz bismillah 101 X tapi di bagi 5, kemudian setiap bagian di masukan ke botol dan di tanam di setiap pojok sawah dan satunya di tengah sawah. Apakah ini ada dalilnya Pak..?

Demikian pertanyaan saya Pak Ustad..

Wassalam

Dodi

Dodi Sandra

JAWABAN

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Dodi yang dimuliakan Allah swt

Nabi saw memiliki nur, yaitu nur risalah dan hidayah yang dengannya Allah swt memberikan pentunjuk kepada mata hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa cahaya risalah dan hidayah ini berasal dari Allah swt, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٥١﴾
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٢﴾
صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ ﴿٥٣﴾

Artinya : ”Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. As Syuraa : 51 – 53)

Cahaya itu bukanlah didapat dari penutup para nabi sebagaimana anggapan sebagian orang-orang ingkar. Adapun jasmani Rasulullah saw terdiri dari darah, daging, tulang dan lainnya. Beliau saw makhluk yang diciptakan dari seorang ayah dan ibu dan beliau saw belum pernah diciptakan terlebih dahulu sebelum kelahirannya.

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa yang pertama kali diciptakan Allah adalah nur (cahaya) Nabi Muhammad saw atau bahwa Allah swt memegang segenggaman cahaya wajah-Nya dan bahwa genggaman itu adalah Muhammad saw, Allah memperhatikan genggaman tersebut lalu meneteslah beberapa tetesan darinya dan diciptakan dari setiap tetesan itu seorang Nabi atau makluk-Na yang seluruhnya berasal dari cahaya Rasulullah saw.” maka hadis yang seperti ini maupun sejenisnya adalah tidak benar berasal dari Nabi saw, sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah didalam Majmu’ Fatawa juz XII hal 366. (al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ juz II hal 10 – 120)

Adapun pertanyaan selanjutnya tentang membaca al fatehah dalam jumlah tertentu yang dibagi kepada jumlah tertentu lalu diletakkan di pojok-pojok sawah agar hasil panennya baik maka saya belum mendapatkan dalil atau landasan syar’inya (wallahu a’lam).

Berdoa adalah ibadah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas bin Malik bahwa “Doa adalah otak ibadah.” Dan sebagaimana umumnya suatu ibadah maka pada dasarnya ia adalah perkara tauqifiy yang tidak dibolehkan bagi seseorang melakukan suatu ibadah dengan cara-cara yang tidak disyariatkan Allah swt karena dapat menjatuhkannya kedalam perkara bid’ah.

Didalam urusan dunia, termasuk hasil panen, maka tidaklah lepas dari hukum alam yang kemudian dikembalikan kepada pengetahuan dan usaha manusia (si petani) tentangnya. Semakin dirinya mengetahui cara merawat sawahnya dengan baik serta bekerja keras untuk itu maka ia akan mendapatkan hasil penen yang baik. Selain itu, bagi seorang petani yang beriman kepada Allah swt maka ia meyakini bahwa selain kerja keras maka ia juga dituntut untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt memohon kepada-Nya agar hasil panennya baik dan berkah.

Didalam doa-doanya maka ia akan berdoa dengan doa-doa matsur yang berasal Al Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah saw dan jika memang dirinya tidak mampu menggunakan bahasa arab maka diperbolehkan baginya berdoa dengan menggunakan bahasanya (selain arab) jika dilakukannya diluar shalat. Setelah itu semua dilakukan maka tidaklah ada yang terbaik baginya kecuali menyerahkan sepenuhnya hasil panennya kepada Allah swt (bertawakal kepada-Nya).

Wallahu A’lam

Wirid Lebih Utama Ketimbang Pahalanya Oleh: Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

Wirid Lebih Utama Ketimbang Pahalanya
Oleh: Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

Tidak ada yang meremehkan konsistensi wirid (ketaatan di setiap waktu) kecuali orang yang sangat bodoh, karena warid ( pahala wirid) itu akan di dapat di negeri akhirat, sedangkan taat atau wirid itu akan lenyap bersama lenyapnya dunia ini.

Sedangkan yang lebih utama untuk diprioritaskan adalah yang wujudnya tidak bisa diabaikan. Wirid adalah HakNya yang harus anda laksanakan. Sedangkan warid adalah sesuatu yang anda cari dariNya. Mana yang lebih utama antara sesuatu yang dituntut oleh Allah padamu, dibanding apa yang anda tuntut dari Allah?
Mayoritas ummat ini lebih banyak berburu pahala dan janjinya Allah swt. Dalam segala gerak gerik ibadahnya. Padahal yang lebih utama adalah ibadah dan kepatuhannya itu sendiri. Sebab kepatuhan dan ubudiyah yang dituntut oleh Allah swt, dan menjadi HakNya, itu lebih utama dibanding hak kita yang besok hanya akan bisa kita raih di akhirat.

Sebab kesempatan melaksanakan HakNya saat ini dibatasi oleh waktu dunia, dan akan habis ketika usia seseorang itu selesai. Karena itu semampang di dunia, ibadah, amal, wirid harus diperbanyak sebanyak-banyaknya. Soal pahala dan balasan di akhirat itu bukan urusan kita. Manusia tidak berhak mengurus dan menentukan pahalanya. Semua itu adalah haknya Allah swt. Yang telah dijanjikan kepada kita, karena merasa menginginkannya.
Ibnu Athaillah lalu menegaskan, mana lebih utama tuntutan anda apa tuntutan Allah?
Disinilah lalu berlaku pandangan:
1. Taat itu lebih utama dibanding pahalanya.
2. Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya.
3. Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya.
4. Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya.
5. Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya.
6. Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan.
7. Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya.
8. Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan.
9. Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati.
10. Wirid itu lebih utama ketimbang warid.
11. dan seterusnya.

Para sufi sering mengingatkan kita, “Carilah Istiqomah dan jangan anda menjadi pemburu karomah. Sebab nafsumu menginginkan karomah sedangkan Tuhanmu menuntutmu istiqomah. Jelas bahwa Hak Tuhanmu lebih baik dibanding hak nafsumu.”

Abu Syulaiman ad-Darany menegaskan, “Seandainya aku disuruh memilih antara sholat dua rekaat dan masuk syurga firdaus, sungguh aku memilih sholat dua rekaat. Karena dalam dua rekaat itu ada Hak Tuhanku, sedangkan dalam syurga firdaus hanya ada hak diriku.”

Sufinews.com

"SIMAK KALIMAT SUCI-NYA-TAFFAKUR'KAN-LAH??" (Oleh : Ambar Sari Setiadi)

Wahai Sahabat Akherat-Ku..
Simak Kalimat-Kalimat Suci-Nya..,
Pahami maknai apa yg telah DIA katakan kepada Kita...
Taffakurkan-lah semua yg telah DIA sampaikan...
Jangankanlah Kau mengeraskan suara-mu.
Coba Kecilkan suara-mu, lalu khusyukan Kalimatullah-Nya..

Sahabat.. Kecilkan.. Kecilkan suara-mu..Plisszz..
Lantumkan makna suci kitab-Nya..
Syahduhkan-lah dalam qolbun sufi-mu..
Taffakurkan-lah.. Ya Taffakurlah untuk kebenaran ayat2-Nya..

Saatnya Kau simak perkataan-NYA
Saatnya Kau renung Makna-makna suci-Nya..
Saatnya bertaffakur .. belajar mengerti kata2-Nya..

Tiada jarak dan Pijak 'tuk dipisahkan diantara kedua-Nya..
Tiada pemisah jalan 'tuk menyeberangi jalan yg Haq-Nya..
Dan Tiada Paksaan 'tuk menyelami arti keindahan-Nya..

Yaaa.., Taffakurkan-lah wahai sahabat..
Simak- simak simak..., Iqro dalam qolbun-mu.. bahwa,
Dalam Alquran pun DIA berfirman :

"Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (QS. Yusuf (12) : 3)

"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman. walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." (QS. Yusuf (12) : 103,104)

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS. Yusuf (12) : 105,106)

"Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?. "Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf (12) : 107,108)

Subahanallah Ya Allah Hu.. dada kami tergetar membaca firman-MU...

"Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?" (QS. Yusuf (12) : 109)

Subahanallah.. Ya Allah Hu.. Kami menyimak firman -MU...

"Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa." (QS. Yusuf (12) : 110)

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS. Yusuf (12) : 111)...

Wahai Sahahabat Akherat..
Tiada kata seindah hanya memberikan petuah kata..,
Petuah yg mungkin manfaat bagi kita semua..,
Petuah dari segala-Nya yg terbubuhi dalam kitab-Nya..
Maha Besar Allah dgn segala firman-Nya..
DIA berkata kembali....,

"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul". (QS. al-Isra' (17) : 15)

Subahanallah... Allah Hu Akbar....Lailahaillallah...

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya". (QS. al-Isra' (17) : 16)

Subahanaallah sejak dulu sampai saat ini kami pun diperingatkan oleh-Nya..
Ya Allah Hu.. ampunkanlah kami yang lalai...
Kami Sadar...Ya Sadarkanlah Kami..
Wahai Sahabat .. Sadarkah bahwa kita harus Islah diri ..
Ya Islah diri 'tuk mencari kemenangan diri..
Kemenangan dalam diri kita.. ,Ya.. Islam-kanlah diri kita..
Dan ber Islam-lah kita dengan khusyuk-Nya..

Ya Allah Hu.... Apapun itu, Kami patuh ..,
Kami taat.. Kami menunggu Perintah-MU, Gerak-MU, Kami menyembah-MU dan.,
kami mendengar Firman-MU dalam Alquran bahwa..,

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (QS. al-Isra' (17) : 18)

Ampun YA Allah Hu.. Kami tak ingin seperti ini terjadi pada kami..., Ya Allah Kami menyimak Firman-MU..,

"Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. al-Isra' (17) : 19)...

Ya Allah Hu ini yang kami inginkan, kami menginginkan jalan baik-MU...,
Ya Allah Hu Kami menyimak firman-Mu..,

"Kepada masing-masing golongan--baik golongan ini maupun golongan itu--Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS. al-Isra' (17) : 20)...

Alhamdulilah semoga ya Allah Hu....

"Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).(QS. al-Isra' (17) : 21,22)

Tidak akan Ya Allah Hu..., Kami tidak akan menyekutukan-MU dgn yg Lain...
Duniawi bukan jalan kami.. Akherat-lah jalan kebahagiaan hakiki kami..
Ya Allah Hu.. Bimbinglah kami masuk kedalam jalan-MU...
Bagaimana pun itu tunjukkanlah kami jalan yang terang tuk memasuki dunia-MU ya Allah Hu..,

Ya Kami terus bertasbih atas gerak-Mu,
Ya Allah Hu..Yaa..Kami "Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(QS. ash-Shaff (61) : 1)

DIA pun Berfirman...

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. ash-Shaff (61) : 2,3)

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. ash-Shaff (61) : 4)..

Masyaalallah ini yg diribut-ributkan...
Ya Dialah MUJADID.. ya MUJADID pemberi jalan yang terang kepada Kami...
Petunjuk jalan bagi Kami, pemberi jalan kedamaian hati bagi Kami..
Petunjuk dalam jalan yang HAQ...untuk kami.... Subahanallah...

DIA pun berfirman kembali...,

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya:" Wahai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu? "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (QS. ash-Shaff (61) : 5)

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. "Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci." (QS. ash-Shaff (61) : 7,8)

MUJADID = LASKAR ARASY... siapa dia Ya Allah Hu..,

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. ash-Shaff (61) : 9)

Lalu MUJADID pun BERKATA...

"Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?,. (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya," (QS. ash-Shaff (61) : 10, 11)

Berkatalah MUJADID...

"niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (QS. ash-Shaff (61) : 12, 13)

Subahanallah ....Maha Besar Allah dengan segala Firman-firman-Nya....

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. al-Jumu'ah (62) : 2)..

"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar" (QS. al-Jumu'ah (62) : 4)

Ya Allah Hu.. Hanya Engkaulah yang Kami sembah...Ya Kami selalu..,

"Bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. at-Taghabun (64) : 1)

Ya Allah Hu.. Saatnya kami ber-islah..
Saatnya kami bersujud kepada MU yg hakiki..
Saatnya Hati kami bersujud yang hakiki..
Maha besar Allah dgn segala firman-firman-Nya..

Masukkanlah Mujadid kedalam dada Kami..
Jadikanlah Mujadid dalam shaff2 hati kami...
Ya Allah Hu...
Terarkhir kata ini pun Kami tunduk akan firman-MU...
Ya Katakanlah Wahai Allah...Kami menyimak firman-MU..,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. al-Anfal (8) : 2)

"(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (QS. al-Anfal (8) : 3,4)

Alhamdulilah ... Ya Allah Hu.. Terangkanlah akal, pikiran, hati kami
Tuk mentaffakuri Makna kalimat Suci-MU..
Tuk mendalami makna terdalam kalimatullah-MU..
Tuk Menyelami makna MUJADID-MU..

Agar kami tak ribut-ribut membesarkan suara kami..
Agar kami diam dan terdiam menyimak kalimat2 yg telah KAU lahirkan dalam hati Kami..

Yaaa.. Allah Hu..Kami ...MENYIMAK KALIMAT SUCI-MU
Dan Kami akan men-TAFFAKUR'KAN'nya..
Sirami Kami dgn Ayat2 Ma'ani MU...
Amin .....

"Teruslah Syiar dan Jihad kebaikan hanya karena Allah.."

Wassalam
Love 'n Peace
Ambar Sari Setiadi
24 Agust'09 :) 09:57am

:: KEPOMPONG & KUPU - KUPU ::

Kepompong dan Kupu-kupu


Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari ada lubang kecil muncul. Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya yang mungkin akan berkembang dalam waktu. Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.

Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat, dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Renungan :
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon Kekuatan dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon Kebijakan dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon Kemakmuran dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Saya memohon Keteguhan hati dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Saya memohon Cinta dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon Kemurahan /kebaikan hati dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan


(kiriman sahabat)